Tubuh dan Jiwa II: Pengabdian Masyarakat

halo kawan..

saya sedang sakit flu.
entah mengapa, semester 2 ini saya begitu mudah dihinggapi penyakit..
sedih rasanya.
ke mana semua stamina itu.
teman2 bilang: rosa, mungkin karena kamu lebih sibuk.
ya, saya akui, aku jadi lebih banyak berkegiatan daripada semester lalu.
tapi, bukankah jauh lebih banyak orang yang menjalani hidup seperti berlari dan tak pernah berhenti?
namun, kawan, saat ini saya bahagia;
semester lalu saya depresi;
saya merasa seperti alien, yang tak diterima di mana-mana.
berbeda dengan semua.
saya mempunyai semangat lain.
semangat yang berbeda dari semangat saat kita menyanyi di PSM.
semangat pengabdian masyarakat…
saat SMA saya ikut klub debat.
oke, saya tau berbagai kebobrokan negeri ini.
tapi apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?
dulu saya menghadiri acara bakti sosial:
kunjungan ke panti asuhan, buka puasa bersama anak jalanan, donor darah,
ah, INSIDENTAL semua!
kapan masyarakat bisa mandiri??
sekarang, saya tercebur dalam community development,
yang sepertinya prospeknya jauh dari cerah.
seperti ada awan menggantung tepat di atas kita,
atau malahan matahari yang terik memanggang. kering kerontang.
oh iya, Gelap Nyawang adalah nama jalan di selatan ITB, sejajar dengan jalan Ganesha, yang memiliki banyak warung makan, relokasi pedagang kaki lima jl. Ganesha 2002.
 —
Kemarin siang, saya masih sehat.
haha.
saya berencana untuk makan bersama Wikan di RM Bundo Kanduang, Gelap Nyawang.
dalam perjalanan dari Masjid Salman, saya bertemu dengan dua orang pengamen yang saya kenal; saya pernah mengajar salah satu di antara mereka, Mira, mengaji, dalam acara belajar Forum Kakak Asuh PM-KM.
Maafkan saya dik, saya lupa namamu, siapakah nama temanmu, Mira? bolehkah saya panggil kamu si kecil?
saya menyapa mereka. Mereka menanyakan teman saya, Sari, yang tidak ikut bersama saya.
saya jawab, “Teh Sari tidak ikut, saya akan makan dengan teman saya..”
saya berjalan menuju RM BK dan bertemu wikan. saat makan, dua orang pengamen itu menghampiri kami.
teman, saya tak suka orang yang meminta-minta tanpa modal suara yang bagus.
ya sudah, saya ajak mereka makan.
teman, mereka belum makan..
saya suruh mereka mengambil sendiri, karena saya juga sedang makan.
saya suruh mereka masing-masing makan.
Mira memesan dua piring nasi dengan rendang. otak saya berteriak. MAHAL ROSA!
ternyata si kecil tak mau makan; ia ingin jus alpokat seperti yang diminum wikan. silahkan saja ^^,
lalu mereka berdua memesan jus alpokat.
karena si kecil tak mau makan, saya menawarkan; maukah dibungkus saja?
lalu ternyata Mira juga membungkus makanannya,
kemudian Mira mengambil plastik. untuk apakah?
ternyata ia membungkus air putih hangat yang secara otomatis dihidangkan.
Wikan memandangi mereka: dasar orang Indonesia…
aku terkesiap; untuk apa? apakah mereka bahkan tak punya minum di Taman Ganesha?
saat itu juga aku merasa telah mengambil keputusan yang benar.
kemudian mereka pergi dan mengucapkan terima kasih. mereka berlalu. aku melanjutkan makan. perutku agak sakit karena menerima rasa pedas dan berbumbu tanpa pemanasan – aku tak sempat makan pagi.
setelah selesai makan, wikan membayar jus alpokatnya. ia tak makan siang.
saat aku akan membayar, ia bilang: “Jusnya sudah Ros”
terima kasih wikan, semoga dua anak itu mengenangmu 🙂
 —
malamnya, aku terpaksa menghemat makanan gara-gara uangku habis.
bahkan, sekarang, aku hanya punya tiga lembar ribuan dalam dompet.
tapi aku bahagia,
dan aku merasa bersalah atas perasaan bahagia ini!
karena jika aku bahagia, aku merasa membeli kebahagiaan.
dan, ingat ini, teman, kebahagiaan tak bisa dibeli.
🙁
luv, rosa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *