Teman, hari ini rosa tes lari 2,4km.

Tiga minggu lalu, saya juga lari spt itu, dan mendapat hasil 19.02 menit. Saya SANGAT tidak puas dengan hasil itu, terutama karena saya merupakan orang terakhir-terakhir yg finis dan di bawah saya org2 yg punya penyakit.
Saat itu, saya benar-benar kacrut. Berlari sampai trek tiga, lalu berjalan. Lalu berlari. Lalu berjalan. Lalu sprint. Lalu berjalan, perut kesakitan. Lalu berlari. Lalu… Ah, parah, tidak konstan.
Karena hasil saya yang parah itu (batas mengulang olahraga tahun depan 20 menit) saya ingin berlari dengan kecepatan lambat namun konstan. Saya pikir berlari seperti itu akan lebih menyenangkan dan, insya allah, lebih cepat sampai garis finis.
Saya pun memasang target: saya harus berlari dengan konstan. Tidak ada jalan, kalau bisa sprint di saat-saat terakhir, karena setelah sprint saya pasti tidak kuat dan harus berjalan.
Apa hasilnya?
Lari saya konstan dengan kecepatan rendah. Jogging tanpa berjalan. Hasilnya?
19.22 menit!!!
Wow.
Entah kenapa, saya merasa asyik-asyik saja walaupun bahkan teman-teman saya yang sakit larinya JAUH lebih cepat dari saya.
Parah.
Semakin dekat menuju E. Atau sudah E?
Aku ingin menangis.
Tapi tak bisa, karena aku bahagia: HORE, AKU BISA JOGGING TANPA BERHENTI SEPANJANG 6 PUTARAN! Itu, bagiku, merupakan sebuah prestasi tersendiri sekaligus batu loncatan; kalau aku bisa berlari dengan konstan sejauh 6 putaran, aku mungkin bisa mempercepat lariku; pada suatu saat, bila aku terus berlatih, mungkin aku akan mencapai suatu keadaan di mana aku bisa berlari, dalam arti sebenarnya, sepanjang 6 putaran.
Muncul rasa bersalah dalam hatiku. Aku terlalu permisif untuk diriku sendiri; aku tak mempunyai daya juang yang cukup tinggi. Aku terlalu cepat puas atas hasil yang kucapai, padahal aku sangat jauh tertinggal dari teman-teman yang lain, bahkan teman-teman yang mempunyai asma atau semacamnya.
Aku tak pernah berpikir, mau ditaruh di mana muka ini. Teman-teman 12 atau 16, aku 19.
Aku berusaha berpikir bahwa aku berusaha menutupi kesedihan karena kegagalanku sekarang, waktuku turun, dengan kebahagiaan bahwa aku bisa jogging tanpa berjalan. Tapi itu gagal! Karena aku benar-benar bahagia!
Saat tes pertama, aku merasa belum maksimal. Setelah lari, walaupun sempat “langsung tiduran di gravel”, aku merasa masih fit, tidak seperti jaman SMA saat aku benar-benar merasa akan pingsan setelah berlari 2,4km dengan waktu 15-16 menit. Tak ada pula pegal-pegal atau keluhan setelah olahraga, karena otakku berkata aku tentunya belum memaksakan diri, bila hasil lariku dianalisis dengan logika sederhana.
TADI JUGA! Setelah lari, aku merasa masih bisa jogging beberapa putaran lagi, atau bahkan berenang.
APA YANG SALAH DENGANKU???
Sebal rasanya, sepertinya aku harus membuang kebahagiaan ini demi hasil yang lebih baik…