Catatan ini adalah sebuah bentuk kegalauan saya atas bahasa. Seperti yang kita semua tahu, bahasa menunjukkan identitas seseorang. Saya kira tidak perlu ada elaborasi lebih lanjut untuk pernyataan ini.
Catatan ini saya dedikasikan untuk Mas Dito, Sito, dan Gilda.

Kisah saya dimulai pada Minggu, 17 Mei 2009. Sore itu, saya sedang duduk di sekre PSM-ITB, menunggu teman saya menjemput saya untuk belajar kalkulus. Sebelumnya, saya mendengarkan kakak-kakak angkatan saya membahas Program Penerimaan (PP) PSM-ITB 2009. Saat orang terakhir dari para pembahas itu, ketua PP-PSM 2009, yang juga merupakan kakak kelas saya SMA, Dito, akan menutup pintu sekre (dan mungkin juga menguncinya, padahal saya masih berada di dalam T.T). Refleks saya berkata, “Hwaa jgn kunciin guweeee!!” atau semacam itu. Dito pun berkata, “Waaah sekarang uda pake gue guee,” dan saya reflaks (lagi) menjawab “Kan juga rosa di jogja cuma 3 tauun,” yang mana Dito juga cuma SMA di Jogja. Hahaha.

Peristiwa itu cukup mengganggu pikiran saya saat itu. Untuk mengatasi kegalauan yang ditimbulkan, saya bermain piano dan menyanyi – padahal besoknya saya ujian kalkulus, ujian paling absurd yang me-require pesertanya menangis dahulu SEBELUM ujian (tidak seperti Dasar Rangkaian Elektrik, yang mengharuskan peserta ujian menangis SETELAH ujian). Oke, saya tidak akan membahas ujian-ujian itu di sini.

Dalam pikiran saya, saya benar-benar tak punya identitas. Sebagai seseorang yang menghabiskan masa kecilnya di berbagai kota, saya terbiasa untuk beradaptasi dan mengikuti gaya bahasa di mana saya sedang berpijak (atau gaya bahasa lingkungan saya, atau (lagi) kepada siapa saya sedang berbicara). Sedikit kenangan menyempil dalam pikiran saya, saat saya di-gap, atau di-“labrak” kakak kelas saya saat SMP karena cara bicara saya yang menurutnya (menurutnya apa ya? saya lupa. yang jelas ia tak suka. dan saya juga tak kenal sama si kakak kelas itu. sape eluuu.) ah, saya tak tahu. Yang jelas itu terjadi gara-gara saya membawa cara bicara “Jawa” ke Makassar. Gaya bicara yang berbeda dengan kebanyakan ornag di sana. Duh, teringat lagi saat saya dipanggil “Jawa” oleh teman SD saya. Apakah menjadi seorang Jawa merupakan sebuah aib? Enak kah didengar di telingamu kalo se panggilko “Bugis”??

Selama ini, saya hanya berpikir saya adalah orang Indonesia.

Mengenai kata ganti orang pertama (dan kedua, mungkin) yang menjadi inti permasalahan dalam catatan ini, saya mempunyai beberapa pandangan.
Pertama, bahwa orang memang merasa nyaman berbicara dengan bahasa yang ia pakai sehari-hari. Adanya perbedaan dapat mengusik “zona nyaman” itu dan memaksa pikiran si orang yang kenyamanannya terusik untuk, di alam bawah sadar, memberikan sebuah cap pada orang yang mengusik. Cap itu dapat berupa apa saja, yang jelas cap itu menyatakan “dunia kita gak sama”.
Kedua, bahwa bahasa “gue-lo” merupakan bahasa yang menurut orang-orang melambangkan kearoganan metropolis “Jakarta”, seperti yang juga terucap dalam lagu Makassar Bisa Tonji. Lirik tidak akan saya berikan di sini, anda dapat mendapatkannya di YouTube. Sekedar informasi, lagu ini menceritakan orang yang pulang ke kampungnya dengan membawa oleh-oleh logat Jakarta.

Bagaimana dengan kaitannya terhadap identitas?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tanpa sadar menilai orang dari cara ia berbicara. Contoh paling mudah ialah saya; orang yang bahasanya merendahkan dengan sangat jelas tak akan saya angkat menjadi teman dekat. Begitu pula logat; saya bisa dengan jahatnya menertawai (dalam hati) orang yang berbicara dengan logat jawa sangat medok. Memang rasis, tapi itulah dunia, Bung. Saya pribadi berharap kita semua dapat menjadi orang Indonesia yang menjunjung tinggi Bahasa Indonesia mengharapkan hal-hal kecil berbau sentimen kedaerahan dan perbedaan persepsi seperti ini tidak terjadi. Saya berharap kita semua mengakui identitas kita sebagai orang Indonesia tanpa terganjal identitas kedaerahan.

PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Maaf kalau saya ngelantur. Tetapi, saya benar-benar berharap tidak ada kesalahpahaman lagi.

Penulis merupakan pecinta Indonesia kelahiran ibukota yang pernah melewatkan hidupnya berbicara dengan logat Jakarta, Sorong, Makassar, dan Jawa-Yogyakarta. Sekarang penulis sedang mendengarkan dengan sepenuh hati orang-orang yang berbicara dengan logat Sunda.