Menanggapi artikel BeritaSatu: http://www.beritasatu.com/nasional/187576-soal-penyerangan-di-yogyakarta-kapolri-rumah-jangan-jadi-tempat-ibadah.html

Judulnya bikin “WHAT? THIS IS PLAIN CRAZY!”. Setelah dibaca artikelnya, ada konteksnya: “Yang saya maksud rumah tidak boleh dijadikan tempat ibadah itu adalah jika rumah berfungsi sebagai tempat ibadah rutin. Seperti misalnya salat jumat rutin, kebaktian rutin, itu yang tidak boleh.”

Rutin? Rutin dan sering maksudnya? Teman saya bahkan ada yg bikin pengajian tiap bulan di rumahya dengan mengundang ustad.. Pasti umat lain ada juga yang seperti itu. Berasa susah ya bikin kegiatan ibadah rutin di rumah? Kalau misal membuat acara makan2/pesta/acara silaturahmi (?) (rumah orang terkenal atau petinggi partai yg biasanya ada acara?) di rumah sebulan sekali, apakah juga bakal diserang (dan jadinya tidak dibolehkan oleh kapolri, karena susah diawasi)?

Saya ngerti sih logikanya… Karena memang rumah pribadi & rumah ibadah itu nature-nya beda, di mana mungkin di rumah ibadah ada lalu-lalang jemaat & gangguan suara (berisik). Tetapi Pak Kapolri yg mengatakan kalimat tersebut (rumah jangan jadi tempat ibadah) utk kasus penyerangan di Yogyakarta, terutama kasus kedua (perusakan bangunan di Dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman yang dipakai umat Kristen untuk menjalankan kebaktian) rasanya jadi tidak terlalu tepat karena sebelumnya ada kasus pertama (pembubararan dan penganiayaan jemaat Katolik yang terjadi di Kompleks Perumahan STIE YKPN, Ngaglik, Sleman).. Jadi ambigu karena sepertinya doa rosario saja tidak boleh.

Oh this is plain crazy.

Yang jelas, yang paling membuat saya syok untuk kedua kasus penyerangan ini adalah kedekatannya dengan saya: saya orang Jogja. Keluarga dan teman-teman saya di Jogja. Eyang saya sering ikut sembahyangan (mungkin termasuk rosario?), baik itu menyelenggarakan di rumah atau di rumah anggota jemaat yang lain. Saya ingat dulu sering mendapatkan undangan yang diselipkan di bawah pintu rumah, lalu akan saya taruh di atas piano & saya mengatakan ke eyang bahwa tadi ada undangan sembahyangan. Oh iya, eyang saya Katolik.
Bisa jadi keluarga dan teman-teman saya yang jadi korban penyerangan-penyerangan tersebut.

Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang dimurkai Allah…