Satu sore di persimpangan jalan dan di stasiun kereta bawah tanah

Derainya hujan,
kelabunya awan,
sekeliling tak
tunjang perasaan, hati nan gelisah akan

satu sangkalan
yang engkau ucapkan.
Teguh dan yakin
terlempar bak sauh, jauh dari keyakinan.

Pergi!
yang kau bilang.
Ah, luluh lantak aku.

Aku teringat saat bahagia adalah kita. Cengkrama.
Itu apa?
Itu khayal.
Itu bayang yang

kemarin masih,
kemarin hidup,
kemarin ada,
kemarin nyala.

Apa aku harus lupa akan kita?

Kemarin cerah,
kemarin ceria.

Apa aku harus lupa akan semua?

Kemarin tawa,
kemarin tiada.

Apa aku harus bakar tanda mata, apa aku harus rendam tenggelam kisah yang ditutup dengan kelam?

Jalanan tak juga menyepi burung gereja berkicau tanpa henti.

Kita bertolak.
Tak toleh belakang.
Kau naik k’reta
dan aku berjalan, sampai datang kesunyian.

Canda semesta ke manusia.

Suatu hari…

 

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *