Nasionalisme kuliner (gara-gara pacar)

So, lately, I’ve been cooking Indonesian food. Nggak, kalian nggak salah denger. Masakan Indonesia.

You might wonder WHY would Rosa rebek pangkat tak terhingga nyari (dan beli) sepuluh macam bumbu dan mencoba memakai ingredient asli. Ya, Rosa yang selama ini menolak masak masakan Indonesia.

(Alhamdulillah yah akhirnya Rosa nasionalis juga dalam urusan masak-memasak.)

Yak teman-teman, karena saya ingin “berbagi” masakan Indonesia ke pacar saya yang orang Belanda. Kebetulan dia makannya nggak rewel (walaupun kalo nemenin masak rewel “bawang merah dimasukin dulu terus baru bawang putih dan apinya kecil, kalo nggak nanti bawangnya gosong!” dll).

Selama 2,5 tahun ini, karena saya hampir selalu masak untuk konsumsi pribadi, masakan yang dihasilkan super abal-abal. Rosa suka pecel, tapi sayuran paling murah di supermarket boerenkool (kale)? Pecel boerenkool pun jadi. Bumbu masakan? Alhamdulillah di toko Turki ada ayam yang udah dibumbuin, jadi tinggal masuk microwave atau diungkep. Nggak ada cerita beli bumbu asli. Bahkan, bikin tumis pun bawang putihnya bawang putih bubuk (berhubung males ngupas dan ngiris bawang putih).

Namun…

Sejak Februari lalu, aku sering spend time di tempat pacar, yang mana dapurnya lumayan lengkap. Selain dia masak buat aku (masakan dia enak-enak kalo nggak lagi makanan ajaib! Maklum mantan chef), aku kadang masak buat dia. Pertama kali, aku masak pecel dan tempe tahu goreng plus sambel kecap. Dia suka tempe goreng! Bahkan dia tanya belinya di mana (di rak vegetarian di supermarket…). Pecelnya udah bukan pecel boerenkool, bo. Pecelnya pake bayam, tauge, & kacang panjang (kouseband). And then it escalated (not really) quickly…. I found myself cooking bubur ayam buat sarapan! Dan kalo ada nasi sisa, aku masak nasgor (walaupun buat diri sendiri, mas pacar masih tidur). Walaupun begitu, aku masih makan Indonesian-inspired food juga sih, yang udah adapted to my taste, such as my signature beef ketumbar kecap dish (pernah masak ini buat gathering PPI Delft & teman-teman suka masakan aku!). Selain itu, aku suruh dia coba durian (hasil: dia NGGAK SUKA AT ALL).

Puncaknya beberapa hari yang lalu, aku masak ayam bumbu kuning. Ini pencapaian besar sih buat aku, karena aku pakai bumbu fresh yg diblender & bumbunya pun macem-macem. Alhamdulillahnya di deket tempat dia ada supermarket Asia yang jual bumbu-bumbu tersebut. Bayangkan, aku memblender butiran kemiri, ketumbar bubuk, irisan kencur, seruas kunyit, irisan jahe, bawang merah, bawang putih, merica, dan cabe merah, kemudian menumis bumbu blenderan tersebut bersama daun salam, sereh, dan irisan lengkuas. Kemudian masukkan ayam, hehe. Yang kurang cuma daun jeruk, gara-gara ga bisa beli daun jeruk satuan, mesti banyakan. Hasilnya, yay, dia suka, horeee!

http://blog.rosalia.id/wp-content/uploads/2017/04/18155523_10212821226675903_691672852_n-768x432.jpg

Ayam bumbu kuning ala rosa

 

Sebetulnya, “nasionalisme kuliner” ini udah dimulai sejak sebelum aku mulai masak sih. Lah first date aja di Si Des (dan udah tiga kali kita ke sana). Satu hal yang membantu terwujudnya diplomasi cinta kuliner ini adalah ketersediaan masakan Indonesia di Belanda (jadi orang Belanda udah biasa dengan makanan Indonesia) dan ketersediaan bumbu. I mean… in contrast, si last year Italian guy udah emoh duluan kalo mau aku kasih makan makanan Indonesia. Terlalu beda sama makanan Italia, kayanya.

Anyway, beberapa hari yang lalu, dia bilang, dia akan coba cari resep makanan Indonesia dan masakin buat aku, tanpa aku tau dia mau masak apa. Katanya sih biar aku nggak berharap. Mari kita tunggu hasil dia gimana!! ❤❤ 🇮🇩 🇳🇱

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *