Draft kata pengantar tesis (atau curhat?)

Panik.

Dua minggu lagi, alhamdulillah, saya deadline tesis. Muncul titik terang berakhirnya tesis saya, walaupun nggak tau banget deh supervisor saya bakal komentar apa tentang tesis nan nggilani ini setelah saya submit. Ga tau juga bakal men-delay greenlight meeting atau nggak. Cukup bagus atau nggak. Huftsies.

Jadi, sebagai penyemangat countdown H-14 deadline, mari kita nge-draft kata pengantar tesis. Setidaknya nge-list uneg-uneg dan kisah menarik yang boleh dibuka ke publik.

Apa aja emang yang mau ditulis di kata pengantar? Tentunya betapa sudah keluar berbagai cairan tubuh saat mengerjakan tesis. Biasanya sih yang ditulis cuma darah, keringat, dan air mata. Nggak ada yang bahas air seni. Apalagi air mani (lah…). Yang jelas, pernah saya ketemu student counselor dan nangis-nangis sampe berpelukan. Rasanya tertekan. Keluar ruangan lanjut nangis di kamar mandi sambil nelpon Riska yang senasib-satu-supervisor-dan-telat-lulusnya-juga. Sempet juga setelah meeting sama supervisor, dibilang hasil tulisan saya yang udah susah payah ngolah data dan ditulis, dibilang itu semua sebenernya lebih cocok ditaruh di appendix. Woo, pulang-pulang nangis lagi, terus nyusul pacar ke Amsterdam minta peluk. Dodol.

Kalau teman saya Kevin dalam tesisnya bilang ini adalah proses belajar, buat saya tesis ini adalah proses “menyusahkan diri sendiri”. Proses “penasaran” dan “ingin mencoba hal yang baru”. Gimana enggak, saya yang kuliah Management of Technology ini berani-beraninya bikin tesis yang lebih ke arah kebijakan, arah asesmen dampak. Modyar. Mbok yao tesisnya yang lurus-lurus aja, cari topik di graduation portal atau cari internship/thesis di perusahaan. Topiknya juga yang banyak kaitannya sama kuliah manajemen teknologi, udah ada dasar ilmunya. Kalo nggak, berkaitan sama pekerjaan sebelumnya di bidang manajemen proyek. Atau paling tidak, nyambung sedikit sama rencana tesis di motivation letter tentang manajemen perubahan setelah sebuah sistem teknologi informasi diimplementasikan di suatu perusahaan (nah kan udah spesifik sebetulnya??). Lha kok ini enggak.

Malah tentang asesmen dampak pembangunan manusia terhadap implementasi pitalebar (atau sebaliknya, asesmen dampak implementasi pitalebar terhadap pembangunan manusia? Halambuh, pokokmen kuwi) dengan studi kasus proyek Palapa Ring. Pengalaman impact assessment, nggak ada. Kuliahnya pun nggak diambil, itu kuliah jurusan sebelah. Belum pernah belajar broadband pula, nggak ngerti detailnya kayak apa maupun value chain-nya kayak gimana. Cuma pernah denger-denger di kantor orang-orang ngerjain proyek DWDM (yang terkait fiber optik, inti proyek Palapa Ring) atau pasang wi-fi Telkom. Human development alias pembangunan manusia opo meneh. Cuma pernah denger tentang human development index, titik. Manapula jangan-jangan ra nyambung, mestinya buat Palapa Ring itu bukan impact assessment untuk “pitalebar”, melainkan “fiber optic backbone”. Lebih pas.

Indonesia Broadband

Indonesia Broadband rencana 2015. Sekarang sudah 2017, Bung!

Dulu, pas saya milih topik, ada beberapa pertimbangan (yang sayangnya nggak termasuk pertimbangan “cepet lulus”). Pertama, pas liat di graduation portal, nggak ada topik yang bener-bener pengen saya ambil. Kan sayang nih, tesis sekali seumur hidup. Pengennya yang bener-bener sesuai hati. Cari yang sesuai idealisme. Kedua, saya pengen tau opsi karir apa aja yang ada. Sekarang, saya lagi ambil cuti dari kantor yang mana itu adalah perusahaan TI swasta. Nah, saya juga sebetulnya tertarik kerja di lembaga keren-keren internasional atau regional itu, macam PBB atau ASEAN. Kayanya ini sih credits to almarhumah Icha, temen SMA saya yang cerita tantenya kerja di PBB. Nah, kalo lembaga-lembaga ini kan kerjanya kayaknya policy banget ya, yang berhubungan dengan kemaslahatan umat… Jadi saya pengen coba jadi policy analyst gitu setidaknya di tesis. Ketiga, berhubungan dengan alasan pertama tadi… Dulu, jaman kuliah tingkat satu, saya lagi terpapar-terpaparnya sama internet. Coupled with jiwa nasionalis binti SJW, cita-cita saya adalah pasang internet di seluuuuruh daerah di Indonesia, terutama di daerah terpencil. Palapa Ring banget, kan? (Btw, credit to Fauzi yang ngenalin saya ke proyek Palapa Ring.) Nah saya penasaran, emangnya impactnya apa sih? Apa iya saya cuma mau berbagi “kebahagiaan” versi saya? Kayaknya enggak deh, soalnya kok rasanya jaman tahun 2014 dulu di Papua internetnya lambat dan itu ngeselin banget untuk keperluan kantor (ini credits to Enggar, adik kelas jaman SMA yang pas ditugaskan di Papua hobi nulis tentang internet di sana).

Nah, berbekal tiga pertimbangan itu, maju tak gentarlah saya mengajukan topik ini. Tanpa bekal matang, tanpa pengetahuan memadai. Hasilnya sudah bisa ditebak: kuliah delay satu tahun. Beasiswa habis, harus minta bantuan finansial ke orangtua. Pada saat yang sama, menyaksikan teman-teman seangkatan (dan adik angkatan) lulus duluan dan sudah kembali ke tanah air. Tapi lumayan lah tesisnya nggak selesai-selesai. Paling ada adek tingkat yang bilang…. “Rosa? Rosa yang mana ya? Ooooooh, Rosa yang nggak lulus-lulus itu kan?” (This is an actual quote from me ke mahasiswa yang udah entah berapa tahun jadi mahasiswa master. Kemudian langsung di-husss sama teman-teman seangkatan).

Kualat.

Satu hal yang saya bahagiakan (bahasa dari mana ini?) adalah banyak sekali dukungan teman-teman dalam proses menyelesaikan tesis ini. Kalau tadi sepanjang tulisan ini saya sudah kasih credit untuk orang-orang yang berperan dalam proses penentuan topik saya, di buku tulis saya halaman paling depan saya catat orang-orang dan pihak-pihak yang sangat membantu perjalanan tesis ini. Selain orangtua saya yang super sekali kok yo mau-maunya saya porotin minta membiayai satu tahun kuliah padahal aslinya mintanya tiga bulan, ada orang-orang lain yang telah memberikan berbagai macam dukungan. Ada yang menjadi teman berbagi pikiran seperti Lusida yang memberikan evaluasi, ada yang membukakan jalan wawancara seperti Mas Revi dan Kak Fauzan, sampai tempat curhat dan full moral support seperti Fabri dan Pim. Semua-mua ini tentunya ingin saya tulis di kata pengantar tesis, seandainya tesisnya sudah jadi. Selain itu, tentu saja, saya juga ingin mendedikasikan tesis saya pada kaum fakir internet Indonesia. Fakir kuota, fakir sinyal, dan fakir segala-galanya deh. Hidup broadband. Hidup!

 

Eh, boleh nggak sih nanti kata pengantar tesisnya ini aja?

 

Den Haag, 30 Juli 2017

Penulis

1 comment

  1. Rossaaaa!!!! Lo ga sendirian. Gue juga terancam delay meskipun karena alasan yang berbeda. Itu emang menyedihkan 🙁 belom lagi kalo pakek ditanya2. Tapi walau berliku, pasti ada jalan. Semangaaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *