Panik.

Dua minggu lagi, alhamdulillah, saya deadline tesis. Muncul titik terang berakhirnya tesis saya, walaupun nggak tau banget deh supervisor saya bakal komentar apa tentang tesis nan nggilani ini setelah saya submit. Ga tau juga bakal men-delay greenlight meeting atau nggak. Cukup bagus atau nggak. Huftsies.

Jadi, sebagai penyemangat countdown H-14 deadline, mari kita nge-draft kata pengantar tesis. Setidaknya nge-list uneg-uneg dan kisah menarik yang boleh dibuka ke publik.

Apa aja emang yang mau ditulis di kata pengantar? Tentunya betapa sudah keluar berbagai cairan tubuh saat mengerjakan tesis. Biasanya sih yang ditulis cuma darah, keringat, dan air mata. Nggak ada yang bahas air seni. Apalagi air mani (lah…). Yang jelas, pernah saya ketemu student counselor dan nangis-nangis sampe berpelukan. Rasanya tertekan. Keluar ruangan lanjut nangis di kamar mandi sambil nelpon Riska yang senasib-satu-supervisor-dan-telat-lulusnya-juga. Sempet juga setelah meeting sama supervisor, dibilang hasil tulisan saya yang udah susah payah ngolah data dan ditulis, dibilang itu semua sebenernya lebih cocok ditaruh di appendix. Woo, pulang-pulang nangis lagi, terus nyusul pacar ke Amsterdam minta peluk. Dodol.

Kalau teman saya Kevin dalam tesisnya bilang ini adalah proses belajar, buat saya tesis ini adalah proses “menyusahkan diri sendiri”. Proses “penasaran” dan “ingin mencoba hal yang baru”. Gimana enggak, saya yang kuliah Management of Technology ini berani-beraninya bikin tesis yang lebih ke arah kebijakan, arah asesmen dampak. Modyar. Mbok yao tesisnya yang lurus-lurus aja, cari topik di graduation portal atau cari internship/thesis di perusahaan. Topiknya juga yang banyak kaitannya sama kuliah manajemen teknologi, udah ada dasar ilmunya. Kalo nggak, berkaitan sama pekerjaan sebelumnya di bidang manajemen proyek. Atau paling tidak, nyambung sedikit sama rencana tesis di motivation letter tentang manajemen perubahan setelah sebuah sistem teknologi informasi diimplementasikan di suatu perusahaan (nah kan udah spesifik sebetulnya??). Lha kok ini enggak.

Malah tentang asesmen dampak pembangunan manusia terhadap implementasi pitalebar (atau sebaliknya, asesmen dampak implementasi pitalebar terhadap pembangunan manusia? Halambuh, pokokmen kuwi) dengan studi kasus proyek Palapa Ring. Pengalaman impact assessment, nggak ada. Kuliahnya pun nggak diambil, itu kuliah jurusan sebelah. Belum pernah belajar broadband pula, nggak ngerti detailnya kayak apa maupun value chain-nya kayak gimana. Cuma pernah denger-denger di kantor orang-orang ngerjain proyek DWDM (yang terkait fiber optik, inti proyek Palapa Ring) atau pasang wi-fi Telkom. Human development alias pembangunan manusia opo meneh. Cuma pernah denger tentang human development index, titik. Manapula jangan-jangan ra nyambung, mestinya buat Palapa Ring itu bukan impact assessment untuk “pitalebar”, melainkan “fiber optic backbone”. Lebih pas.

Indonesia Broadband

Indonesia Broadband rencana 2015. Sekarang sudah 2017, Bung!

Dulu, pas saya milih topik, ada beberapa pertimbangan (yang sayangnya nggak termasuk pertimbangan “cepet lulus”). Pertama, pas liat di graduation portal, nggak ada topik yang bener-bener pengen saya ambil. Kan sayang nih, tesis sekali seumur hidup. Pengennya yang bener-bener sesuai hati. Cari yang sesuai idealisme. Kedua, saya pengen tau opsi karir apa aja yang ada. Sekarang, saya lagi ambil cuti dari kantor yang mana itu adalah perusahaan TI swasta. Nah, saya juga sebetulnya tertarik kerja di lembaga keren-keren internasional atau regional itu, macam PBB atau ASEAN. Kayanya ini sih credits to almarhumah Icha, temen SMA saya yang cerita tantenya kerja di PBB. Nah, kalo lembaga-lembaga ini kan kerjanya kayaknya policy banget ya, yang berhubungan dengan kemaslahatan umat… Jadi saya pengen coba jadi policy analyst gitu setidaknya di tesis. Ketiga, berhubungan dengan alasan pertama tadi… Dulu, jaman kuliah tingkat satu, saya lagi terpapar-terpaparnya sama internet. Coupled with jiwa nasionalis binti SJW, cita-cita saya adalah pasang internet di seluuuuruh daerah di Indonesia, terutama di daerah terpencil. Palapa Ring banget, kan? (Btw, credit to Fauzi yang ngenalin saya ke proyek Palapa Ring.) Nah saya penasaran, emangnya impactnya apa sih? Apa iya saya cuma mau berbagi “kebahagiaan” versi saya? Kayaknya enggak deh, soalnya kok rasanya jaman tahun 2014 dulu di Papua internetnya lambat dan itu ngeselin banget untuk keperluan kantor (ini credits to Enggar, adik kelas jaman SMA yang pas ditugaskan di Papua hobi nulis tentang internet di sana).

Nah, berbekal tiga pertimbangan itu, maju tak gentarlah saya mengajukan topik ini. Tanpa bekal matang, tanpa pengetahuan memadai. Hasilnya sudah bisa ditebak: kuliah delay satu tahun. Beasiswa habis, harus minta bantuan finansial ke orangtua. Pada saat yang sama, menyaksikan teman-teman seangkatan (dan adik angkatan) lulus duluan dan sudah kembali ke tanah air. Tapi lumayan lah tesisnya nggak selesai-selesai. Paling ada adek tingkat yang bilang…. “Rosa? Rosa yang mana ya? Ooooooh, Rosa yang nggak lulus-lulus itu kan?” (This is an actual quote from me ke mahasiswa yang udah entah berapa tahun jadi mahasiswa master. Kemudian langsung di-husss sama teman-teman seangkatan).

Kualat.

Satu hal yang saya bahagiakan (bahasa dari mana ini?) adalah banyak sekali dukungan teman-teman dalam proses menyelesaikan tesis ini. Kalau tadi sepanjang tulisan ini saya sudah kasih credit untuk orang-orang yang berperan dalam proses penentuan topik saya, di buku tulis saya halaman paling depan saya catat orang-orang dan pihak-pihak yang sangat membantu perjalanan tesis ini. Selain orangtua saya yang super sekali kok yo mau-maunya saya porotin minta membiayai satu tahun kuliah padahal aslinya mintanya tiga bulan, ada orang-orang lain yang telah memberikan berbagai macam dukungan. Ada yang menjadi teman berbagi pikiran seperti Lusida yang memberikan evaluasi, ada yang membukakan jalan wawancara seperti Mas Revi dan Kak Fauzan, sampai tempat curhat dan full moral support seperti Fabri dan Pim. Semua-mua ini tentunya ingin saya tulis di kata pengantar tesis, seandainya tesisnya sudah jadi. Selain itu, tentu saja, saya juga ingin mendedikasikan tesis saya pada kaum fakir internet Indonesia. Fakir kuota, fakir sinyal, dan fakir segala-galanya deh. Hidup broadband. Hidup!

 

Eh, boleh nggak sih nanti kata pengantar tesisnya ini aja?

 

Den Haag, 30 Juli 2017

Penulis

Akhirnya, post yang udah lama pengen ditulis tapi nggak kesampean-kesampean gara-gara nesis mulu. Akhirnya interview pertama telah dijalani. Demi misteriusnya cerita, nama kak narasumber disamarkan.

Aku udah sempet ngobrol sama narasumber mengenai obat-obatan ini beberapa kali, jadi aku udah punya list lengkap drugs apa saja yang dia pernah coba dan sedikit teaser cerita. Seluruh materi di sini pure dari interview dan aku nggak mencari tahu regulasi/pendapat masyarakat/bahaya drugs/apapun itu sebelum interview, jadi ini sifatnya spontan dan ngejar naik cetak. Nggak diluangkan juga sih waktunya untuk riset kecil, karena masih ribet banget tesis dan post ini pun dikerjain dalam dua hari.

Setting pengalaman ini adalah Belanda, seputaran Amsterdam dan Tilburg (dan mungkin juga Haarlem dan Den Haag?), kurun waktu 2005-2016. Sekarang sih kak narasumber udah nggak make lagi gara-gara dia merasa udah tumbuh dewasa dan ketuaan untuk melakukan hal-hal itu. Kayanya, dari seluruh list, tinggal rokok yang tersisa.


Rosa (R): Hai kak narsum! Aku udah lama pengen wawancara kakak nih, soalnya aku pengen tau pengalaman kakak dalam menggunakan obat-obatan. Kita udah pernah ngobrol sebelumnya dan aku punya daftar obat yang udah kakak coba: alkohol, kafein, nikotin, hash, ganja, kanna, mushroom, 2CB, kokain, speed, ecstasy, salvia, crack, kratom, GHB, gas tertawa… Jadi, pertanyaannya, kenapa?

Kak Narsum (KN): Eh, buset, kenapa. Kenapa ya? Yah… Waktu aku umur 15, aku mulai gaul keluar dikit. Mulai minum, ngeganja dan nge-hash. Aku suka banget, dan aku cuma pengen seneng-seneng sama temen-temen, nyoba macem-macem. Aku juga mulai mikir, apa sih efek sesuatu terhadap kamu. Itu mindset aku jaman aku masih remaja: pengen coba macem-macem yang masih memungkinkan untuk manusia (ceileh). Lebih ke tentang “ini menarik” sih, dibandingkan “wah bakal fun nih”. Tujuannya ya cari tau apa efek si obat terhadap kamu, contohnya mushroom ngasih pengalaman berbeda dibanding kokain. Dan aku udah tau sebelumnya sih. Intinya beda alasan untuk tiap hal yang dilakukan.

R: Oh gitu.. Jadi beda-beda ya tiap jenis obat? Emang klasifikasinya apa kak? Atau efek apa yang bisa diharapkan dari masing-masing jenis?

KN: Contoh klasifikasinya sih uppers dan downersUppers bikin kamu berenergi dan downers bikin kamu selow dan rileks. Buat aku, aku punya buku judulnya “Uit je bol” (Out of your mind) yang klasifikasiin itu ke obat-obatan yang bisa bikin kamu mengalami perjalanan ke dalam diri sendiri dan obat semacam speed yang bikin kamu berenergi, ngomong terus, dan super sosial. Buat yang pertama, obat-obatan psikoaktif, mereka kasih nama pengguna “psikonot” (psychonaut), di mana mereka seperti astronot tapi perjalanannya ke dalem, nggak ke luar. Kalo yang kedua sih, itu nggak bakal bikin kamu berkontemplasi, cuma kasih stimulasi fisik aja.

R: Oke deh kak. Terus, bisa gak kasih aku contoh pengalaman menarik waktu kakak nyobain obat-obatan itu? Atau kasih tau deh pengalaman yang paling diinget…

KN: Wah, ada pengalaman baik dan pengalaman buruk….

R: Ngobrolin yang baik dulu deh.

KN: Hmm… Ada beberapa cerita. Beberapa waktu yang asik itu pas ngeband bareng temen, ngeganja, super high, dan main musik. Terus ada juga kali lain yang agak gila. Waktu itu aku udah lama–satu, dua, atau tiga tahun– nggak make apa-apa. Waktu itu aku pikir, wah kayanya aku siap nih make lagi. Waktu itu ada party di Amsterdam, temen aku bilang dia punya GHB dan aku belom pernah coba itu sebelumnya. Jadi aku coba, wah enak nih. Nambah lagi, wah tambah enak nih. Terus temen-temen bilang, “Bro, kamu ngga boleh minum kalo lagi make ini,” dan aku gak peduli. Aku mikirnya sih, wah aku udah pernah nyoba macem-macem kok, gapapa. Aku nambah lagi, tetep minum alkohol, dan I had a fucking great time. Aku merasa aku sayang semua orang, semua hal itu indah, musiknya enak, dan aku enjoy myself. Terus temen aku yang lain lagi dateng, dan dia bilang dia punya ekstasi! Yeaaaah! Jadi ya aku make ekstasi juga. Itu super fucked up sih, tapi asik banget, nice party.

R: Terus emang gimana cara ngontrol diri-nya kak? Kakak bilang, kakak make GHB, terus tetep minum, terus pake ekstasi.

KN: Nggak kok, nggak lepas kontrol atau gimana-gimana. Ya tergantung pribadi masing-masing sih, tapi aku kayanya nggak pernah… Gimana ya? Contohnya, kalo pakai ekstasi di suatu party, aku jadi appreciate ngobrol sama orang dan aku jadi super sosial dan ngomong terus. Jadi bukan masalah lepas kontrol, kamu masih in control. Tapi kalo kita ngobrol asik, tiap lima menit sekali aku bakal bilang “wah asik ya…” gitu, soalnya secara fisik aku merasa “I love everything”, jadi seakan-akan semua indera terbuka. Jadi kayak hal-hal jadi agak lebih intens. Kalo aku sih, kalo aku lagi make, aku masih “napak tanah”. Nggak malah jadi kehilangan kesadaran terus joget bugil di jalanan. Hehe.

R: Waaah, gitu ya. Lanjut kak, kalo pengalaman yang WTF gimana?

KN: Beberapa tahun yang lalu, temenku kerja di sebuah acara TV yang nunjukin proses numbuhin mushroom. Ketika acaranya selesai, orang TV-nya nawarin segelimpang mushroom itu ke kru. Temenku ambil deh semuanya. Jadilah si temenku itu dateng ke rumah bawa setengah garbage bag penuh mushroom. Terus kita jalan, beli dua puluh random vinyl record yang dipilih berdasarkan ke-psychedelic-an artwork sampulnya. Gak jelas deh.

Jaman dulu, kamu bisa beli mushroom di smart shops. Kalo kamu beli di situ, seporsi dapet lima mushroom. Kita make 26 mushroom per orang, yang mana itu gilaAwalnya, wuah, bukan main. We had a good time and it was really nice, musik juga tetep mengalun. Satu hal tentang mushroom itu adalah nge-trip-nya bertahap. Pertama, wah mulai kerasa nih, terus kamu balik ke normal. Terus ngerasa lagi, terus normal lagi. Gitu terus sampe akhirnya memuncak. Turunnya juga sama. Nah, pas turun, kita pengen memperpanjang trip-nya, jadilah kita ngeganja dan nge-hash. Setelah itu, wah, kok aku merasa badanku nggak enak. Mual. Ya udah aku bilang temenku, kayanya aku bakal muntah nih. Eh, temenku malah panik. Ya udah aku yang nenangin temenku. Gubrak. Aku bilang gapapa kok, ini paling kayak salah makan, abis muntah juga balik biasa aja.

Setelah aku muntah di kamar mandi, giliran temenku yang muntah. Perutku kosong banget abis muntah itu, dan perut kosong plus heavy trip adalah bukan kombinasi yang bagus, sodara-sodara. Aku masih mual, jadi aku ambil minum. Eh, terus aku malah jatuh pingsan. Aku jatuh ke arah pintu kamar mandi. Gedebuk! Pintu kamar mandi ketutup dan badanku ngalangin pintu sehingga temenku nggak bisa keluar.

R: Omaygat.

KN: Pas aku jatuh, gelas minum aku pecah. Jadi aku jatuhnya ke si gelas pecah itu deh. Temenku syok abis. Dia teriak dan nyoba buka pintu tapi nggak bisa. Akhirnya dia bisa keluar dan bangunin aku. Dia nanya, “Bro, mulutmu kenapa?” karena ternyata ada luka kecil di ujung bibir aku dan gigi aku patah. Aku jalan ke kamar mandi, mau ngecek di cermin. Seumur-umur itu pertama kalinya aku merasa panik banget. Sambil jalan aku minum air putih lagi dan ada sesuatu yang ketelen. Oh Tuhaaaan, itu either potongan gigi atau pecahan gelas. Tambah paniklah aku. Pas ngaca, karena aku juga masih di bawah pengaruh mushroom, pas aku liat ujung bibirku berdarah dikit, rasanya kayak liat luka menganga. Akhirnya aku matiin lampu, matiin musik, dan pegangan tangan sama temenku di kasur. Oh Tuhan Yesus!!! Aku coba menenangkan diri.

Akhirnya, pagi-pagi, pengaruh obat hilang. Kita samasekali nggak tidur dan nggak jadi lebih tenang. Terus aku pikir, kalo aku nelen pecahan gelas, aku harus ke rumah sakit. Jadilah kita ke rumah sakit jam enam pagi, yang mana NGGAK ADA ORANG DI RUMAH SAKIT! UGD, kosong. Lobi, kosong. Aku sama temenku mulai bertanya-tanya, apakah ini cuma mimpi buruk? Ternyata lagi ganti shift. Setelah nemu Pak Satpam, beliau manggil seorang suster yang akhirnya bawa kita ke bagian pertolongan pertama.

Susternya tanya ke kita, ada apa? Ya udah kita cerita ke susternya. Setelah itu, susternya lihat mulutku dan bilang kalo sepertinya aku nelen patahan gigi aku, karena kalo gelas pasti ada bekas goresan. Jadi susternya nyuruh aku rileks, tenang, dan bilang JANGAN NGELAKUIN INI LAGI. Jangan bego banget make 26 mushroom dalam waktu yang bersamaan!

Abis itu kita jalan pulang, cari sarapan, dan semua terasa normal. Nggak tau aja itu orang-orang kalo tadi malem ada peristiwa menghebohkan. Atau itu cuma kita doang sih.

R: Gila. Hahaha. Eh tapi, sebenernya itu legal nggak sih? Katanya itu TV show dan kalo di smart shop cuma bisa beli 5? Terus gimana obat-obatan lain yang kakak coba? Abis kakak pernah cerita transaksi di mobil sama pengedar… Di mana si pengedar ganti nomer hape tiap bulan biar polisi nggak bisa ngelacak.

KN: Dulu sih legal, tapi di suatu titik jadi ilegal gara-gara ada turis lompat dari jembatan di Amsterdam. Aku nggak tau dia pake apa, tapi kayanya macem-macem: kokain, ekstasi, mushroom, terus lompatlah dia. Cuma satu kejadian terus VVD (salah satu partai yang lagi berkuasa) melarang. Jadi ilegal deh. Nggak dijual lagi di smart shop, tapi tetep bisa bikin sendiri. Ya kalo bikin sendiri kayak dicontohin di TV itu kan juga nggak per porsi, pasti partai besar. Cuma jadi nggak bisa dijual aja. Sama halnya dengan ganja. Legalitas itu hal yang aneh sih kalo diterapkan di obat-obatan macam itu.

R: Terus gimana yang macam lainnya?

KN: Ya gitu. Kalo ekstasi atau kokain, itu dibikin di lab atau pabrik, ada industri besar di balik itu. Itu nggak natural dan obat-obatan itu ilegal. Ilegal untuk diproduksi, dijual… Jadi beda. Karena ilegal, kamu harus berurusan sama pengedar yang shady. Tapi pengedar aku nggak gimana-gimana juga sih, cuma orang biasa mencari nafkah. Banyak dari mereka orang baik. Cuma yang bikin shady ya itu, karena mereka terhubung dengan dunia gelap.

R: Jadi pengalaman kakak setengah ilegal setengah legal?

KN: Ya gitu deh…

R: Gitu aja deh kalo gitu. Makasih ya kak untuk waktunya! Kapan-kapan kalo aku mau wawancara lagi gapapa ya!

KN: Oke, sama-sama!

Aku dan buku Uit je Bol milik Kak Narsum

Fotoku bareng buku Uit je bol milik Kak Narsum

 

Begitulah sekelumit ngobrol bareng kak narsum. Rencananya sih mau bikin bagian kedua, soalnya rasanya ini masih kurang banget. Tapi lain kali deh. Disclaimer lho ya, aku nggak mempromosikan ngobat, aku cuma wawancara kak narsum aja. Hehehe.

So, lately, I’ve been cooking Indonesian food. Nggak, kalian nggak salah denger. Masakan Indonesia.

You might wonder WHY would Rosa rebek pangkat tak terhingga nyari (dan beli) sepuluh macam bumbu dan mencoba memakai ingredient asli. Ya, Rosa yang selama ini menolak masak masakan Indonesia.

(Alhamdulillah yah akhirnya Rosa nasionalis juga dalam urusan masak-memasak.)

Yak teman-teman, karena saya ingin “berbagi” masakan Indonesia ke pacar saya yang orang Belanda. Kebetulan dia makannya nggak rewel (walaupun kalo nemenin masak rewel “bawang merah dimasukin dulu terus baru bawang putih dan apinya kecil, kalo nggak nanti bawangnya gosong!” dll).

Selama 2,5 tahun ini, karena saya hampir selalu masak untuk konsumsi pribadi, masakan yang dihasilkan super abal-abal. Rosa suka pecel, tapi sayuran paling murah di supermarket boerenkool (kale)? Pecel boerenkool pun jadi. Bumbu masakan? Alhamdulillah di toko Turki ada ayam yang udah dibumbuin, jadi tinggal masuk microwave atau diungkep. Nggak ada cerita beli bumbu asli. Bahkan, bikin tumis pun bawang putihnya bawang putih bubuk (berhubung males ngupas dan ngiris bawang putih).

Namun…

Sejak Februari lalu, aku sering spend time di tempat pacar, yang mana dapurnya lumayan lengkap. Selain dia masak buat aku (masakan dia enak-enak kalo nggak lagi makanan ajaib! Maklum mantan chef), aku kadang masak buat dia. Pertama kali, aku masak pecel dan tempe tahu goreng plus sambel kecap. Dia suka tempe goreng! Bahkan dia tanya belinya di mana (di rak vegetarian di supermarket…). Pecelnya udah bukan pecel boerenkool, bo. Pecelnya pake bayam, tauge, & kacang panjang (kouseband). And then it escalated (not really) quickly…. I found myself cooking bubur ayam buat sarapan! Dan kalo ada nasi sisa, aku masak nasgor (walaupun buat diri sendiri, mas pacar masih tidur). Walaupun begitu, aku masih makan Indonesian-inspired food juga sih, yang udah adapted to my taste, such as my signature beef ketumbar kecap dish (pernah masak ini buat gathering PPI Delft & teman-teman suka masakan aku!). Selain itu, aku suruh dia coba durian (hasil: dia NGGAK SUKA AT ALL).

Puncaknya beberapa hari yang lalu, aku masak ayam bumbu kuning. Ini pencapaian besar sih buat aku, karena aku pakai bumbu fresh yg diblender & bumbunya pun macem-macem. Alhamdulillahnya di deket tempat dia ada supermarket Asia yang jual bumbu-bumbu tersebut. Bayangkan, aku memblender butiran kemiri, ketumbar bubuk, irisan kencur, seruas kunyit, irisan jahe, bawang merah, bawang putih, merica, dan cabe merah, kemudian menumis bumbu blenderan tersebut bersama daun salam, sereh, dan irisan lengkuas. Kemudian masukkan ayam, hehe. Yang kurang cuma daun jeruk, gara-gara ga bisa beli daun jeruk satuan, mesti banyakan. Hasilnya, yay, dia suka, horeee!

http://blog.rosalia.id/wp-content/uploads/2017/04/18155523_10212821226675903_691672852_n-768x432.jpg

Ayam bumbu kuning ala rosa

 

Sebetulnya, “nasionalisme kuliner” ini udah dimulai sejak sebelum aku mulai masak sih. Lah first date aja di Si Des (dan udah tiga kali kita ke sana). Satu hal yang membantu terwujudnya diplomasi cinta kuliner ini adalah ketersediaan masakan Indonesia di Belanda (jadi orang Belanda udah biasa dengan makanan Indonesia) dan ketersediaan bumbu. I mean… in contrast, si last year Italian guy udah emoh duluan kalo mau aku kasih makan makanan Indonesia. Terlalu beda sama makanan Italia, kayanya.

Anyway, beberapa hari yang lalu, dia bilang, dia akan coba cari resep makanan Indonesia dan masakin buat aku, tanpa aku tau dia mau masak apa. Katanya sih biar aku nggak berharap. Mari kita tunggu hasil dia gimana!! ❤❤ 🇮🇩 🇳🇱

Hi Rosa! Would you tell me a bit about yourself?

Yeah. I’m… you know, an eternal student needing to (yes, more than “wanting to”) graduate. I’m 26 and still live off my parents because I’m too lazy to find work and my scholarship had already ended. I live in The Hague where there are a LOT of cool activities and I hate myself because I don’t speak Dutch, making me unable to participate in a lot of events. I spent 23 years of my live living in Indonesia before coming here for my master’s study. I am currently the only daughter of my parents because the universe decided to take the life of my sister two years ago.

How did you know about feminism?

Actually I know nothing about it, you know. I don’t read any Simone de Beauvoir‘s or Virgina Woolf‘s books because I’m essentially illiterate, in the sense of I don’t read many books.

The only books I read were the ones that were in my reach when I was small, and that includes Habis Gelap Terbitlah Terang by Kartini. Obviously, since I was still small, I don’t remember much of it. I only remember that it was a series of letters sent to her penpal in the Netherlands. If she lives in the present day, that’d be blogs. Or articles in a webzine, I guess.

I have no idea about women’s movement, third wave feminism, you name that. I’m not familiar to those. The movement doesn’t originate anywhere near where I’m from. Indonesia is a new country and ever since the first election, women can vote (I guess. The 1955 election). They had female president back in 2001, even though she’s viewed a bit negatively now.

Several months ago, I attended Indonesian Minister of Woman’s Empowerment and Child Protection Yohana Yembise’s talk about gender issues. She mostly discussed domestic violence to women, that is still prevalent in Indonesia. More about women in Indonesia can be read in this Quora thread.

Currently I read a a website quite religiously, checking every time they have a new article. It’s called Magdalene and I got the exposure from them, as well as Quora.

But, how does it connect to your life?

Yeah well. I’m kind of a privileged bitch who don’t even know how to struggle since my parents and my surroundings grant me that privilege. I never had to work super hard, never been so depressed, yada yada yada. Moreover, I tend to be opportunistic. At work, a lot of the time I got away from something just because I’m a girl. There’s a scary client-boss? He’d gladly explain me things just because I’m a girl–with guys he was more harsh. Weird hair as a result of a shitty experiment? Just put on a headscarf. Guys don’t have those privileges. They can’t just put on a headscarf if they accidentally dyed their hair blue. And what else? A lot of them. There aren’t many girls in STEM? Good! More eye-candies in campus, because I’ve always chosen technical university (Insitut Teknologi Bandung in Indonesia and Technische Universiteit Delft in The Netherlands).

Then, the usual women’s problems–catcalls and sexual harrassment. I actually thought that I’ve never been catcalled. There was one time when I walked with my cousin and she was the one getting catcalled, not me. Then I saw this and I realized that the “Miss, where do you want to go?” or a “Hi” on the street were catcalls. I um… I actually replied those people. If I feel like it, I would actually ask for direction. If I don’t feel like it, I just replied them while still walking, basically a bit shouting so that they could still hear me because I’ve passed them. I actually think that I would still do that, while telling them that women might be uncomfortable with their catcalls.

Then, sexual harrassment. I’ve had it twice; one in Jakarta and one in Rome. Back then I had no idea what to do, so I didn’t do anything other than dodging their hands and running away. (Now I know that I should confront those people.) But then, yeah, I thought it was just another crime, such as being pickpocketed and that there is nothing I can do to avoid that.

How did your upbringing play any role?

With gender equality and feminism kind of issues? Again, privilege. I only have a sister, so I have no comparison on how my parents would raise any son. But I guess it’d be the same, because age and context also matter.

One thing I remember is when I used to put my legs up when I’m sitting (“duduk mekokok”) because mom said “you’d be raped” (“nanti diperkosa”). I was small and I didn’t even know what rape means. Oh, there’s one more character on me: I’m not critical. I don’t question things and hence I didn’t even ask mom what rape is. Moreover, mom complains a lot that I’m super messy and she was like “Your dad is even more tidy than you! Girls should be tidier than guys!” — my answer was “It doesn’t have any connection with gender, mom”. Sometimes also, when dad was drilling a hole on the wall when he needed to install something, I wanted to try but he sent me off saying that it’s a male job. Privilege! I don’t have to do that, my dad would do that.

Throughout my childhood and teenage years, I was also not into the “boys” things, such as football. I didn’t have to “fight the stereotype” or anything, probably because I don’t have anything to fight for or “oh, it’s so rare for a girl to do that!”.

So you’re not a feminist.

My semi-boyfriend (duh?) told me that if a woman (or someone, anyway) is not a feminist, she doesn’t understand what feminism is. Ok let me look up the definition of feminism.

Merriam Webster: “the theory of the political, economic, and social equality of the sexes”, “organized activity on behalf of women’s rights and interests”

Wikipedia: “a range of political movements, ideologies, and social movements that share a common goal: to define and advance political, economic, personal, and social rights for women”

OK, sure. There should be equality among sexes. Women’s right? Yes, where the rights are inequal, it should be equal. Does it make me a feminist? Are you satisfied yet that now I’m categorized as a feminist?

Usually, I don’t use the term and declare myself as a feminist because I couldn’t identify to that–it wasn’t popular in Indonesia and I can’t label myself something I don’t understand. Anyway, I’m into gender equality. I think that people should be empowered, people should have freedom. People should be able to live a life without domestic violence–men, women, children. The victims, probably most of themare women, should be able to report to the police about the violence. If there is a marginalized group of women, you should fight that, such as what you can see here. I’m into empowerment.

So you’re into gender equality and women’s empowerment. Have you always been that way? Probably you weren’t like that because patriarchal society had influenced you. What views have changed over the years?

Yeah, of course. The society put expectations on genders. E.g., men should provide for the family. I used to think like that and I disliked my previous partner’s view which says that the wives should also contribute to family income. Now I think that both should contribute to their household based on their own agreement, financially or not, without any societal expectation. I have a friend who is a mom of two and she came here to the Netherlands to study. At that time, her husband left his job in Jakarta and came here to be with his wife and children, mainly doing things online. Did I think that she shouldn’t ask her husband to come here because he has his own career in Jakarta? Did I think that wives should follow their husband and not the other way around? Yes (and obviously now I don’t think that way anymore).

However, I’ve never thought that your worth as a woman is defined by a set of things, such as her ability to have children, no. Moreover, I always thought that I could be anyone I want to be; there is no limitation just because I’m a woman.

Due to the exposure of the internet and long talks with my friends/partners, my views on several things also changed. It’s not about gender equality though; it’s about being ok with myself (it empowers me, actually! That I don’t have to conform with what society thinks). It took me a long time to be ok with myself. My ex used to hate me because I kind of led him into sin; that I had sex outside marriage. I used to think that it would be easier to live my life if I’m a virgin. That if I could turn back time, I should be 18 again and not have sex with my boyfriend at that time. But as I grew older, no. I’m ok with myself. I’m ok with those sleeping arounds, as long as I’m responsible about that. I learned the “as long as I’m responsible about that” the hard way. At one point, I slept with a guy who slept with other women too and as a result I got genital herpes (HSV-1). So, use condoms, people. Abstinence OR be faithful OR use condom. Lol.

But then again, I didn’t feel any gender inequality over the virginity thing. I read on the internet that the society is ok with boys sleeping around but not ok with non-virgin girls. It was not the case with my life. Where I’m from, it’s not ok for boys and girls to have sex before marriage. My ex was even threatened to be disowned by his family (his mom?) if he had sex with me.

Okay, I think that’s it for today. You’re a feminist in your own way, I guess. Any other remarks?

Due to my “good” surroundings, I’ve never had to fight for any “injustice” just because I’m a woman. I’ve never been told to be the second sex or anything. I have my freedom which I take for granted–in fact I took advantages of some things because of my gender. Anyway, in a more equal society, I’m ready to lose those trivial privileges I’ve had as a girl (you know, the getting away from things because I’m a girl or having more eye candies in campus because more girls choose STEM).

I know that there are a lot of people who can’t do something they want or experience discriminations based on their gender, and that is not only women–men also, and everyone in between, the non-binary people. This is based on (outdated?) societal expectation and we all should do something to change that. How? By examining again our opinions. Do you think that being a stay-at-home dad is less respectable than being a stay-at-home mom? Do you think that women should be A and men should be B and non-binary people shouldn’t even be in this world? Would you feel devastated if your son feels trapped in a male body and he thinks he’s actually a female? By thinking about how we form our opinion or judgement (and moreover, how we feel about something), we can start small. Start from ourselves. For women and other marginalized groups, empower yourself, and then you can inspire people around you.

 

Dalam rangka Hari Kartini. Den Haag, 21 April 2017.

 

Kadang, ketika aku mendengar suatu cerita kelam, sisi idealisku muncul dan aku tidak ingin menjadi bagian dari “rantai-nilai” (value chain)* kekelaman.

Saat Via bercerita tentang perkebunan mawar di Kenya yang mematikan danau Naivasha dan membuat sumber air bersih berkurang, aku akan berpikir dua kali jika ingin membeli mawar di supermarket. Bahkan, mawar tersebut dilabeli fair trade — sungguh kekejaman dunia bisnis! Memang, hal ini bisa dibilang lumrah, tak hanya mawar. Film dokumenter “The True Cost” mengungkap sisi lain dunia mode dan “Cowspiracy” mengulik efek peternakan bagi lingkungan.

Tapi, cerita kelam tak hanya bisa dilihat di situ.

Beberapa saat yang lalu, temanku yang pemusik bercerita tentang pengalamannya (dan teman(-teman)nya?)* menggunakan obat-obatan (untuk dicatat… sepertinya mendapatkan obat-obatan di Belanda lebih mudah daripada di Indonesia, dengan kualitas yang lebih tinggi?). Walaupun tak eksklusif di dunia musik, hal ini tak pelak* mengingatkanku pada musisi dunia terkenal yang mempersembahkan musik yang sangat indah — kemudian meninggal di usia muda karena (penyalahgunaan?) obat-obatan atau alkohol. Kadang aku berpikir hal ini saat mendengarkan musik yang indah. Hal ini cukup mengganggu pikiran, rasanya aku tak bisa lagi menikmati musik sepenuhnya. (Ya, hal ini juga terjadi di dunia lawak, dunia finansial, dan lain-lain, tapi karena cerita yang terakhir adalah tentang dunia musik… Itu yang ada di pikiran.)

Ada pula cerita lain, kali ini di dunia sastra. Penulis Eliza Vitri menuliskannya di Magdalene, webzine yang kubaca “secara relijius” (religiously)*. Di situ, ia bercerita betapa penulis muda wanita kerap mengalami pelecehan seksual oleh penulis lelaki senior di lingkaran sastra Jakarta. Aku sampai mengirimkan pesan pribadi kepada Eliza untuk memperoleh versi bahasa Inggrisnya, karena aku ingin membagikan artikel tersebut pada temanku yang tidak berbicara bahasa Indonesia. Pula, Pradewi Tri Chatami pernah menuliskan hal serupa di catatan Facebook beberapa tahun silam. Apa aku harus teringat hal-hal ini tiap kali aku membaca novel dan syair di kemudian hari?

Tapi, yah, di akhir hari*… Hampir semua* hal memiliki cerita di belakang layar yang tak selalu indah. Tak tahu juga aku, bagaimana harus bersikap. Nikmati apa yang ada, mungkin? Mungkin.

 


 

Sometimes, when I heard a “dark” story, my idealistic side surfaced and I didn’t want to be a part of that “dark” value chain.

When Via told me a story about rose plantations in Kenya which killed Lake Naivasha and made the fresh water source scarce, I would probably think twice when I want to buy roses in supermarket. Even those roses are labelled fair trade — oh how the cruelty of corporation world! Indeed, this could be considered normal, not only roses (are like this). Documentary film “The True Cost” revealed another side of fashion world and “Cowspiracy” explored the effect of cattle farms to the environment.

But, the dark stories can also be found in other places.

A few weeks ago, my musician friend told me about his (and his friends’) experience in using drugs (note: obtaining drugs in NL is easier than in Indonesia, and with higher quality, I guess). Even though not exclusively in music, this thing inevitably reminds me to world-renowned musicians who write and perform very beautiful music — then die young because of drugs or alcohol (abuse). Sometimes I think of this when I hear beautiful music. This thought is quite disturbing that I can’t fully enjoy the music anymore (yes, this also happens in other entertainment-related industry and in Wall Street, but since the last story was about music, that’s what’s in my mind recently).

There is also another story, now it’s in the literary world. Writer Eliza Vitri wrote it in Magdalene, a webzine I read religiously. There, she spoke about how young female writer often get sexually harrassed by male senior writer in Jakarta literary scene. I had to send a private mesage to Eliza to get its English version, because I wanted to share that article to my friend who doesn’t speak Indonesian. Also, Pradewi Tri Chatami wrote about similar story in her Facebook note several years ago. Do I have to remember these things every time I read novels and poems later?

But, well, in the end of the day, virtually all things have behind-the-scene stories which don’t have to be all beautiful. I don’t even know what to do about this. Just enjoy them, perhaps? Perhaps.

 



Catatan tata bahasa (*)


I write (and read) sooo much in English these days that I’m kind of losing Indonesian language-sense. My English isn’t that good, but it turns out that my Indonesian sucks as well.

  • In this writing, I had no idea how to translate value chain, religiously, and virtually (which I translated to “hampir semua”). Same goes to “di akhir hari” which is basically “in the end of the day”, even though I guess “di” can’t be used as time propositions, it should only be used as place propositions.
  • My logic is also a bit flawed, there are sentences that are ambiguous, where I rewrote some of them.
  • My use of idiom also sucks, I have no idea whether “tak pelak” is OK to use in that context (I checked KBBI and “pelak” means “salah”, and “tidak pelak lagi” means “tidak salah lagi”, meanwhile I wanted to have an idiom for “inevitably” — “tak terhindarkan”?).
  • Then… punctuation, how I use parentheses inside parentheses. Duh. Is it correct?

Anyway. Not a Gramar Nazi.

 

Ada barang-barang (yang) bergelimpang di meja seberang.
   Apa pecah? Atau belah?
Bukan masalah.

Ada bunyi-bunyi (yang) bergelombang di luar ruang.
   Apa angin? Atau dingin?
Bukan main.

Ada gawai-gawai (yang tak kunjung) bergelinjang di genggaman mojang.
   Apa jaringan sedang terhalang? Atau bujang ingin hengkang?
Bukan apa-apa, hanya saja, kepada bujang hati mojang berkembang — walaupun tak mojang tahu ke mana bujang hilang.

 

Den Haag, 22 Februari 2017, inspired by appelsap87

A few days ago, I met with an old friend. We talked over dinner, and he asked me about what was Indonesia’s response to Trump’s immigration ban to 7 countries.

(If it matters, he’s Dutch and a staff in a political party.)

I replied, nada. Indonesians are busy with their own things. I told him we have this Pilkada governatorial election thingy this year so people are busy watching the debate and those things. And they’re busy fighting with each other on that (no, I didn’t tell him that, but basically that’s the fact). And a bunch other domestic issues. They don’t really pay attention of newest Trump’s policies and that’s not something that makes it to the “buah bibir masyarakat” aka trending topic.

In short, they have their own thing.

Then I told him, for me personally I follow an English-language Indonesian newspaper (The Jakarta Post), that’s basically my news source. Sometimes I checked other media such as Kompas, but I couldn’t fathom why they put those news on their website (basically, their web version is shitty, it’s better to read the actual newspaper they sell on the street). Same goes to Tempo. For international news, Quora is my source (it’s a little bit better, previously it was fucking 9gag, LOL).

He then asked me, don’t you follow a proper international news source?

I was like, nope. I used to follow all those New York Times – BBC – everything on Twitter (plus a bunch more of Indonesian news website, actually), but I unfollowed most of them. There were too much shit going on everyday, and I want a peaceful timeline.

Then he said, “Ah, so it disappear from your timeline, and that makes all those horrible things disappear to from the world? It doesn’t work like that…”

I laughed so bad. Of course, that wasn’t my intention. But I just said, yeah, of course it works like that…

He continued, “But anyway, there’s nothing you can do about it. It’s not like you’re someone who can change the world, an influential politician,”. Yes, indeed.

Ignorance is a bliss.

 

UPDATE: mojok.co just wrote about Trump & “muslim ban”, so I guess it should have more response from Indonesia, lol.