manja. aku manja.


dan salah satu sahabatku menasehati.

“Tia..
Hujan..
Lapar..
Sendirian..
Huhuhu”

Telp delivery kl mmg malasko keluar.

Mungkin kita semua terpisah. Tapi kita tidak sendiri…

“…
Sy menderita tp terlalu malas utk mengakhiri penderitaan.
Bodoh.”

“Terus knapa kl hujan?


Tanggung jawab dgn dirimu.
Kl maag nanti kau yg sakit…”

aku selalu terharu..
masih ada yang mau membalas smsku dan tetap sabar saat aku manja.

aku sayang sahabat-sahabatku…

Ini adalah post pertama identifikasi diri saya.

Beberapa minggu lalu ada testimonial teman saya, Tommy, untuk teman saya yang lain, Sari, di notes facebook. Saat itu Tommy berkata Sari penurut. Tommy menganalogikannya dengan melompat; jika Tommy meminta Sari melompat, Sari akan bertanya, “Seberapa tinggi?”

Saya teringat notes itu hari ini. Jika seseorang menyuruh saya melompat, hal yang mungkin akan saya lakukan adalah:
1. Berpikir tentang melompat; namun jika menurut saya itu sudah tidak perlu dilakukan lagi atau memang tidak perlu dilakukan, saya takkan melompat.
2. Saya akan melompat tanpa bertanya lebih jauh. Tak ada permintaan spesifikasi, interpretasi kita.
3. Melompat dengan bertanya. Contoh: ke depan? Ke belakang? Ke samping? Kaki ditekuk?
4. Melompat tanpa henti, dan pada akhir hari akan menangis karena kelelahan tanpa protes pada pemberi komando, suatu saat akan meledak.

Pemilihan satu dari empat jenis respon di atas bergantung pada beberapa faktor. Pertama, jenis permintaan atau komando. Kedua, pemberi komando. Ketiga, opsional, kondisi diri.

Sekarang saya sedang mengambil pilihan keempat untuk permintaan yang berupa negasi. Saya berpikir tentang toleransi dan membuka diri terhadap berbagai sudut pandang dan cara berpikir untuk itu, juga karakter unik masing-masing orang.

xoxo
Rosa